Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. - Seno Gumira Ajidarma-

Senin, 22 Agustus 2011

Ketika Saya Menjadi Bagian dari Mereka


Jika diberi pertanyaan “ bagaimana kesan saya setelah diterima di jurusan antropologi UNPAD?” Tentu saja saya akan menjawab “ saya sangat senang!”  Mengapa? Ada beberapa alasan yang akan saya kemukakan, pertama saya sangat tertarik dengan pelajaran Antropologi karena saya sangat suka belajar kebudayaan, mengamati interaksi manusia dengan manusia lainnya dan penelitian sosialnya. pada awalnya hanya alasan tersebut yang membuat saya senang tapi setelah menjalani beberapa hari di sini timbulah Alasan kedua yang membuat saya semakin senang berada disini yaitu disini saya banyak menemukan sesuatu yang belum pernah saya temukan sebelumnya di Jakarta. Sesuatu itu diantaranya adalah teman-teman saya yang sebagian besar masyarakat Bandung, masih menjungjung tinggi bahasa daerah mereka yaitu bahasa sunda. Dengan bangga nya mereka bercengkrama dengan teman-temannya menggunakan bahasa sunda. Sedangkan tempat tinggal saya di Jakarta yang sebagian besar masyarakat betawi asli sudah jarang yang menggunakan bahasa betawi dalam kesehariannya.  Awalnya saya merasa asing, karena sekeliling saya selalu menggunakan bahasa daerahnya dalam berkomunikasi, tapi semakin sering saya mendengarnya saya menjadi mengerti dengan bahasa sunda. Selain dari segi bahasa, ketika OSPEK fakultas dihari pertama semua mahasiswa baru di sambut dengan beberapa tarian sunda yang diiringi oleh LISES. Hal ini sangat membuat saya kagum, karena di


Jakarta saya belum pernah menemukan penyambutan dengan tarian daerah seperti ini. Bukannya di Jakarta tidak ada, tetapi kebanyakan di Jakarta jika ada acara penyambutan tidak memakai tarian adat betawi
misalnya tari narojeng, tarian ini sudah sangat jarang digunakan dalam acara penyambutan bahkan lebih sering  menggunakan tarian dari daerah lain. Tari narojeng sendiri sudah jarang diminati oleh remaja di Jakarta, hanya murid-murid sekolah dasar yang masih mempelajarinya. Jelas hal ini sangat berbeda ketika OSPEK kemarin teteh dan akang senior dengan bangga menarikan tarian penyambutan khas Jawa Barat tersebut. Selain itu semua, hal yang paling membuat saya terkejut adalah cara teman-teman saya bergaul. Mereka semua sangat ramah, persepsi saya terhadap orang sunda adalah orang sunda itu sangat ramah dan mudah sekali bergaul. Semua orang mereka sapa. Beberapa hari disini, tanpa bertanya pun saya sudah bisa menebak mana yang orang Jakarta dan mana orang asli bandung. Orang Jakarta itu cenderung individualisme. Sedangkan orang sunda itu cenderung berbaur. Apalagi ketika ada acara dangdutan ketika OSPEK. Jujur saya sangat terkejut melihat salah satu teman saya bisa bernyayi dangdut dan tanpa malu berjoget dengan asiknya di atas panggung. Pemandangan yang belum pernah saya temukan di Jakarta. Karena hal yang seperti itu dianggap kampungan bagi sebagian remaja Jakarta. Keramahan lainnya  tidak hanya tergambar dari teman-teman saya saja. Saya sering bertemu dengan beberapa laki-laki yang berpakaian seperti preman, kesan pertama saya adalah takut. Tapi apa yang terjadi? Mereka malah menyapa saya dengan ramah. Sejak saat itu saya belajar untuk tidak menilai seseorang dari luarnya saja.



Mungkin itulah yang bisa saya ceritakan mengenai kesan-kesan saya ketika menjadi mahasiswa UNPAD khususnya jurusan antropologi. Mungkin dibeberapa pendapat saya, terkesan membandingkan budaya sunda dengan betawi. Namun bukan itu yang saya maksud melainkan hanya untuk merefleksikan bagaiamana perbedaan saat saya berada di Jakarta dengan berada di Jatinangor ini, perasaan saya ketika menjadi orang baru di daerah yang belum saya tempati sebelumnya dan bagaimana tersadarnya saya ternyata Indonesia kaya akan budaya. Mungkin selama ini saya hanya melihat tayangan televisi mengenai kebudayaan tapi sekarang saya benar-benar merasakan akulturasi budaya yang terjadi pada diri saya sendiri.        

Kamis, 04 Agustus 2011

the sweetest moment

Biarkan aku bercerita…
Cerita yang taakan habis termakan zaman
Cerita ini telah berlalu, tapi..
Ia bagaikan film yang terus di putar dalam ingatan ku..
Yaa..ia bagaikan film tanpa suara

Siapapun kalian..
Bagaimana pun kalian
Baik,jahat, angkuh, pintar, apapun itu..
Pasti kalian ingin cerita ini terulang kembali
Berharap bisa menangkap kembali hari-hari yang asing itu

1 tahun bersama
Bukanlah waktu yang lama
Untuk merajut kisah seindah ini
12 Mei 2011..
Adalah kisah yang terjadi di akhir cerita manis ini
Tapi hari itu..
Terjadi begitu cepat Ya Allah..
Adakah waktu yang lebih lama
Agar kami dapat meneruskan kisah ini ??
Meneruskan canda dan tawa kami yang sempat terputus
Meneruskan kekonyolan kami yang sempat terhenti

Tapi aku tersadar..
Waktu taakan pernah dapat diputar..
Taakan ada canda dan tawa lagi..
Taakan ada belajar bersama lagi
Taakan ada kekonyolan kalian lagi
Taakan ada berkumpul bersama lagi
Dan taakan ada lagi teman seperti kalian
Teman yang selalu mengajariku
Mana yang baik dan buruk..
Teman yang telah mengubah ku
Dari sebuah krayon yang jelek
Menjadi sebuah parfum yang wanginya dapat dirasakan semua orang
Apa yang bisa aku kembalikan
Kepada kalian semua teman?

Kini saatnya kita untuk mengakhiri kisah manis ini
Tapi tidak untuk dilupakan
Dengan kalian aku berjuang…
Dengan kalian aku belajar..
Dan dengan kalian aku tahu arti persahabatan..
as we go on
We remember
All the times we had together
And as our lives change
Come whatever
We will still be
Friends forever”