Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. - Seno Gumira Ajidarma-

Selasa, 05 Juni 2012

aku...kamu...dan dia.....

Disebuah pagi, dimana pagi itu begitu indah, begitu cerah, pagi yang penuh harapan...seorang aku pergi ke kampus dengan penuh harapan..yaa segala harapan. setibanya dikampus, kamu tiba-tiba berdiri didepan ku dan memperkenalkan dirimu. entah...seperti ada aliran listrik yang tiba-tiba menyambar tubuhku bahkan sampai ke hati ku. sebenarnya hal ini lebih dari sengatan listrik. sebuah sambaran yang mengandung rasa senang, juga rasa sedih. lebih tepatnya aku tidak bisa menggambarkan seperti apa hal itu. hari demi hari engkau seperti berlari-lari kecil, namun aku masih bisa menjangkau mu, tapi suatu hari, entah mengapa tiba-tiba kamu berlari begitu kencang...dan aku terkejut. akupun mempercepat lariku untuk mengejar mu..aku ingin bertanya mengapa kamu berlari? tapi..kamu berlari begitu cepat..hingga akhirnya aku terjatuh. tapi apa yang terjadi? kamu pun tak sedikit pun menoleh kebelakang, tak sedikitpun mendengar jeritanku dan mungkin tak ada niat sedikitpun di benakmu untuk menolongku berdiri.tak ada yang menolongku saat itu..aku hanya bisa mencoba berdiri walaupun pada akhirnya aku akan terjatuh lagi. mungkin setengah kaki ku sudah lumpuh. sakit luar biasa...saat itu aku berfikir, untuk apa aku mengejar mu sejauh ini? untuk apa aku meminta Tuhan memberikan aku kekuatan dan kesabaran untuk mengejar mu, hanya karena sekedar ingin berlari di sampingmu? untuk apa??

selama aku tersungkur di tanah, bisa dibilang air mata ini terus mengalir. entah mengapa air mata ini seperti tak ada habisnya. cukup lama aku terjatuh dan mencoba berdiri, hingga akhirnya dia yang menolongku. dia rela mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. ku sambut tangan itu dengan senyuman. lantas aku berfikir "ya Tuhan apa dia jawabanMu?" tangan besar itu mampu menjabat tangan mungilku dan menariku untuk berdiri. dia memapahku ke tepi jalan. saat itu, aku masih tak bisa berkata apa-apa. hanya dia yang aku persilahkan untuk menolongku. setelah sekian banyak manusia yang ingin menolongku, namun aku menolaknya. aku seperti kembali kemasa lalu, dimana saat pertama kali aku melihat kamu.

dia sibuk mengobati lukaku. dan aku pun masih terdiam. aku hanya bisa tersenyum kearah langit yang saat itu begitu cerah. setidaknya aku ingin menampakan senyum ku pada Tuhan untuk berterimakasih terhadap pertolongan yang sudah Dia kirimkan. setelah dia selesai membalut luka ku, kami saling bertatapan....lalu tertawa...entah, sebenarnya aku tak tahu apa yang kami tertawakan. mungkin ini adalah luapan kesenanganku.sembari menunggu kaki ku pulih, kami terus mengobrol..yaa sepertinya dia sama seperti ku...sama-sama membutuhkan teman untuk berbagi. sebenarnya...aku ingin segera berlari bersamanya hingga garis finis, tapi........bayangan lalu masih lekat dalam ingatan ku. bagaimana sakitnya terjatuh, bagaimana kecewanya saat kamu tak pernah melihat ku.

how to be brave? how can I love when i'm afraid to fall??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar