Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. - Seno Gumira Ajidarma-

Minggu, 03 Juni 2012

Pernah merasakan mual ketika sedang membaca di dalam mobil? Tiba-tiba kepala merasa pusing saat sedang asyik membaca buku, koran, atau majalah. Ingin tahu apa penyebabnya? Simak artikel berikut ini.



Timothy C. Hain, guru besar ilmu saraf di Northwestern University Medical School, dan Charles M. Oman, direktur Man Vehicle Laboratory di M.I.T Center, telah melakukan penelitian dalam hal ini.

Mabuk, akibat perjalanan menggunakan mobil, kereta api, kapal, pesawat, atau pun berada di ruang angkasa, merupakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan, karena ketidakseimbangan antara situasi yang diharapkan otak dan informasi yang diterima melalui indera.

Untuk mengembalikan keseimbangan, otak mensintesis data dari berbagai sumber, termasuk penglihatan, sentuhan, dan telinga bagian dalam. Yang terakhir ini sangat penting karena otak mendeteksi gerakan kaku (angular motion) dan juga gerakan linear.


Dalam banyak hal, semua input diterima, dan ketika input tidak sesuai dengan situasi yang diharapkan otak, saat itulah terjadi perasaan mual, mabuk, atau muntah.

Bayangkan, ketika kamu sedang duduk di jok belakang mobil sambil membaca, mata kamu tertuju pada buku, dan ini di informasikan ke otak, bahwa kamu berada di dalam mobil.

Akan tetapi, sewaktu kecepatan mobil berubah atau memutar, sensor dalam telinga kamu menangkap ada sesuatu yang berubah, dan hal itu di informasikan ke otak.

Sayangnya, otak membantah kenyataan itu karena ia menerima sinyal dari mata. Ketidakseimbangan informasi inilah yang mengakibatkan mabuk. Melihat keluar jendela akan membantu mengurangi hal itu.

Maka tak heran, jika pengemudi jarang mabuk, karena dia tidak hanya memiliki sensor informasi yang pas karena dia yang mengontrol lajunya mobil. Jadi sensor yang dimiliki sang sopir siap dengan berbagai bentuk gerakan.

Cara itu bisa diterapkan jika kamu ingin bebas dari mabuk laut. Tetaplah berada di geladak kapal, sehingga kamu bisa melihat cakrawala. Sekali sistem keseimbangan kamu telah mempelajari bagaimana mengatasi gerakan kapal, dan ketika kamu menerima guncangan, maka dijamin, kamu tidak akan mabuk 100%. Tentu saja saat di darat, tubuh kamu tetap dapat mengatasi gerakan kapal untuk beberapa jam atau bahkan beberapa hari.

Mabuk juga bisa dialami oleh para astronaut. Data menunjukkan, bahwa mabuk angkasa diderita oleh 70% calon astronot. Dalam "keadaan tanpa bobot", atau gravitasi mikro, kondisi dalam telinga tidak dapat menentukan "turun". Beberapa anggota kru mengatakan, bahwa mereka merasa secara terus menerus terbalik, meskipun orientasi mereka sudah benar.

Sebaiknya, disaat di dalam mobil, kamu tetap fokus dalam bacaan yang sedang kamu baca. Namun, tidak mudah tentunya, butuh latihan dan proses, karena terkait dengan kebiasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar